SUKAGOAL.com – Borneo FC Samarinda dan Persis Solo berjumpa dalam laga Super League 2025 yang berakhir dengan kontroversi akbar. Di lagi panasnya suasana laga, isu video assistant referee (VAR) yang dikabarkan tidak berfungsi dengan bagus menambah bumbu dalam laga tersebut. VAR, yang semestinya menjadi alat bantu yang rasional dalam memberikan keputusan-keputusan penting, justru kali ini menjadi kontroversi. Berbagai keputusan selama laga ini menuai protes keras, terutama dari pihak yang merasa dirugikan. Laga yang diwarnai dengan aksi dramatis dari kedua tim seketika berubah menjadi ajang diskusi publik tentang efikasi teknologi dalam olahraga.
Masalah Teknologi di Pertandingan Krusial
Teknologi VAR yang dikenal membantu membenarkan keputusan wasit dengan meminimalisasi kesalahan manusia masih saja menimbulkan berbagai polemik di lapangan. Dalam pertandingan antara Borneo FC Samarinda dan Persis Solo ini, beberapa momen penting tidak mendapatkan pengecekan VAR yang semestinya. Salah satu contohnya adalah saat gol salah satu tim dinyatakan batal tanpa penjelasan yang memadai. Manajer Borneo FC mencurahkan kekecewaannya seraya berkata, “Keberadaan VAR seharusnya membikin laga menjadi lebih adil, bukan justru memunculkan kontroversi.” Pernyataan ini tentu saja mencerminkan kegelisahan para pemain, manajer, dan bahkan para penggemar.
Ketidakberfungsian VAR ini mencuri perhatian publik, terutama karena kompetisi sekelas Super League 2025 tentu memiliki ekspektasi tinggi terkait utilisasi teknologi tersebut. Protes dari kedua belah pihak semakin membesar saat sejumlah keputusan wasit yang merugikan pihak lain tak mampu lagi diperiksa ulang melalui VAR. “Keputusan harus berpihak pada keadilan dan pengertian teknologi yang jernih,” ungkap seorang pengamat olahraga yang tak mau disebutkan namanya. Waktu kebutuhan akan teknologi tidak ditanggapi dengan serius, kepercayaan publik terhadap pengambilan keputusan dalam pertandingan menjadi taruhannya.
Implikasi Terhadap Super League 2025
Dengan insiden ini, panitia pelaksana Super League 2025 menghadapi tekanan akbar buat segera melakukan penilaian menyeluruh terhadap pemanfaatan VAR dalam kompetisi tersebut. Insiden tersebut juga menimbulkan perbincangan mengenai efektivitas pelatihan dan kesiapan tenaga kerja yang mengoperasikan teknologi tersebut. Salah satu analis sepak bola mengemukakan, “Jika pemeliharaan dan operasional VAR tidak segera diperbaiki, hal semacam ini akan lanjut berulang di masa mendatang.”
Keberadaan VAR dalam sepak bola tidak cuma sekadar alat bantu dalam pengambilan keputusan di lapangan. Teknologi ini juga mempengaruhi psikologi para pemeran dan strategi para instruktur. Dalam konteks Borneo FC Samarinda dan Persis Solo, kedua tim menyatakan bahwa keberadaan VAR seharusnya memberikan rasa aman waktu beraksi. Namun, saat teknologi ini gagal dalam fungsinya, ketidakpuasan dan ketidakpastian kian menghantui jalannya pertandingan. “Kami berharap situasi ini tak mengganggu fokus tim, namun memang sulit buat dipungkiri dampak psikologisnya,” ujar manajer Persis Solo, menambahkan bahwa timnya harus lebih konsentrasi pada pertandingan berikutnya.
Insiden ini telah membuka mata banyak pihak tentang pentingnya menyelaraskan semangat kompetisi dengan keadilan teknologi. VAR, jika digunakan dengan baik, tentu akan mampu mengurangi taraf kesalahan dan memperbaiki kualitas laga. Namun, tantangan kini terletak pada seberapa siap para pihak pelaksana dalam menghadapi gangguan teknis yang mampu terjadi. Dukungan penuh dari penyelenggara dan perhatian lebih terhadap masalah ini diyakini akan mampu mendorong kualitas Super League 2025 ke arah yang lebih baik lagi.




